Hero Akbar / Moses Soroti Bendungan Cimerek Pangradin Terbengkalai: Negara Lalai Menjaga Infrastruktur Rakyat

Aktivis Bogor, Hero Akbar N, MM (Moses)
banner 120x600

BOGOR | BRN – Kondisi Bendungan Cimerek di Desa Pangradin, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, yang kini terbengkalai menuai sorotan. Aktivis Bogor, Hero Akbar N, MM, menilai pemerintah telah lalai menjalankan tanggung jawabnya terhadap infrastruktur publik yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat kecil, terutama petani.

“Bendungan Cimerek yang terbengkalai memang sangat disayangkan. Abainya negara terhadap infrastruktur seperti bendungan sangat berdampak pada ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujar Hero dalam keterangannya melalui pesan singkat WhatsApp, Sabtu (25/10/2025).

Menurutnya, bendungan bukan sekadar fasilitas pengairan pertanian, melainkan juga memiliki fungsi vital sebagai pengendali banjir dan penyimpan air bersih. “Ketika fungsi itu diabaikan, yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat di lapisan terbawah, khususnya petani,” tegas Hero.

Ia menyinggung dasar hukum yang mengatur tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan bendungan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2010 tentang Bendungan, negara berkewajiban memastikan keamanan, pemeliharaan, dan fungsi bendungan yang berada di bawah kewenangannya—baik milik pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota.

“Dalam kasus Bendungan Cimerek, meskipun dibangun secara swadaya oleh masyarakat, seharusnya pemerintah tidak menutup mata. Dukungan dan perawatan yang memadai justru bisa memperpanjang usia bendungan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga,” kata Hero menambahkan.

Aktivis yang dikenal vokal dalam isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan itu menegaskan, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap bendungan-bendungan yang terbengkalai di wilayah Bogor dan sekitarnya. Ia juga menyerukan agar rehabilitasi Bendungan Cimerek menjadi prioritas, mengingat perannya penting dalam menjaga pasokan air dan produktivitas pertanian lokal.

“Negara tak boleh hanya hadir ketika proyek besar dibangun, tapi absen ketika rakyat menjaga apa yang sudah mereka dirikan dengan keringat sendiri,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *