Sekolah Pemerintah Desa dan FGD Desa Curug: Menyusun Potret Sejarah dan Solusi untuk Masyarakat

banner 120x600

BOGOR, BRN – Pemerintah Desa Curug, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, baru saja melaksanakan program Sekolah Pemerintah Desa yang diikuti dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama para tokoh masyarakat dan kesepuhan desa. Kegiatan ini bertujuan menggali sejarah desa dan mencari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

FGD menjadi metode utama dalam pengumpulan data untuk memperoleh wawasan mendalam terkait sejarah dan isu-isu yang dihadapi masyarakat. Dalam sesi ini, para peserta, termasuk kesepuhan desa, berbagi informasi penting yang menjadi bagian dari identitas Desa Curug.

Salah satu tokoh masyarakat atau Kesepuhan Desa, Bapak Suyatna, menyampaikan beberapa fakta sejarah penting.

“Listrik pertama kali masuk ke desa pada tahun 1981. Jembatan pertama yang terbuat dari besi dibangun pada tahun 1973, sebelumnya hanya ada jembatan bambu,” ungkapnya. Informasi ini menjadi bukti perkembangan infrastruktur Desa Curug dari masa ke masa.

Selain menggali sejarah, diskusi juga membahas isu-isu terkini yang menjadi perhatian masyarakat. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Curug, Lomrih, mengungkapkan beberapa keresahan utama warga.

“Masalah ketersediaan air bersih dan pengelolaan sampah menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius,” kata Lomrih.

Kepala Desa Curug, Jaro Aton, berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat identitas dan kesejahteraan desa.

“Dengan adanya kegiatan Sekolah Pemerintah Desa ini, kami berharap dapat menyajikan sejarah Desa Curug yang autentik. Banyak informasi penting yang selama ini terlewatkan,” harapnya.

Program ini tidak hanya mengedukasi para peserta tetapi juga membuka jalan untuk menyusun solusi strategis bagi masalah yang dihadapi desa.

Dengan sinergi antara pemerintah desa dan masyarakat, diharapkan Desa Curug dapat terus berkembang dan menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi warganya.

Kegiatan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi dan refleksi mendalam untuk membangun desa yang tidak hanya kaya sejarah, tetapi juga siap menghadapi tantangan masa depan. (dt/ek)

Editor: Daus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *