Berita  

FKBP Bogor Barat Gelar Diskusi Publik Perdana, Soroti Infrastruktur hingga Huntap Korban Bencana

banner 120x600

BOGOR, BRN – Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) Bogor Barat menggelar diskusi publik perdana bertajuk “Arah Juang Pemuda Bogor Barat” yang berlangsung di Cafe Titik Seduh Hartage, Desa Lewiliang, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Sabtu (14/3).

Kegiatan yang digelar bertepatan dengan momentum bulan Ramadhan 1447 Hijriah itu menjadi ruang diskusi bagi kalangan pemuda untuk bertukar gagasan sekaligus menyuarakan berbagai persoalan pembangunan di wilayah Bogor Barat.

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah tokoh muda lintas bidang, antara lain praktisi hukum sekaligus Ketua DPC Perhimpunan Advokat Indonesia Kabupaten Bogor Ote Herdiansyah, aktivis sosial Irpan Darajat, serta pengamat sosial pemuda Haji Ade.

Acara dipandu oleh Hamdan Yuwafi sebagai pemandu kegiatan, dengan AA Permana bertindak sebagai moderator.

Dalam diskusi tersebut, para narasumber menekankan pentingnya peran pemuda sebagai motor penggerak pembangunan daerah, khususnya di wilayah Bogor Barat yang termasuk Daerah Pemilihan (Dapil) V Kabupaten Bogor.

Wilayah tersebut meliputi sejumlah kecamatan, di antaranya Jasinga, Tenjo, Cigudeg, Sukajaya, Nanggung, Leuwisadeng, Leuwiliang, Parungpanjang, serta Rumpin.

Selain dihadiri puluhan pemuda, diskusi tersebut juga diikuti sejumlah jurnalis dari berbagai wilayah Bogor Barat yang turut menyamakan persepsi terhadap kompleksitas persoalan pembangunan daerah.

Sejumlah isu strategis turut menjadi pembahasan dalam forum tersebut, antara lain minimnya perhatian terhadap situs sejarah Kabupaten Bogor, kerusakan infrastruktur jalan, pelayanan pendidikan dan akses kesehatan, hingga pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban bencana tahun 2020 yang hingga kini dinilai belum sepenuhnya tuntas.

Selain itu, peserta diskusi juga menyoroti keterbatasan penerangan jalan umum (PJU) di sejumlah wilayah yang dinilai rawan, kondisi irigasi pertanian yang belum memadai untuk mendukung program swasembada pangan, serta persoalan sejarah dan agraria di kawasan Bogor Barat.

Para narasumber menilai pemuda perlu hadir sebagai pengawal kepentingan publik sekaligus menjadi kekuatan kritis terhadap kebijakan pembangunan daerah.

“Hari ini kita menyoroti pembangunan di wilayah Bogor Barat. Pemuda harus hadir dan kritis sebagai penggerak agar percepatan pembangunan bisa terwujud ke depan,” ujar para narasumber dalam forum diskusi tersebut.

Mereka juga menegaskan bahwa masyarakat bukan pihak yang meminta-minta dalam pembangunan, melainkan pemilik sah dari pembangunan itu sendiri karena seluruh proses pembangunan dibiayai dari pajak rakyat.

Diskusi publik perdana FKBP Bogor Barat itu dinilai tidak sekadar menjadi forum pertukaran gagasan, tetapi juga momentum lahirnya gerakan pemuda untuk mengawal arah pembangunan daerah.

Kegiatan yang dihadiri puluhan pemuda dari berbagai wilayah Bogor Barat tersebut ditutup dengan tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur. Meski baru berdiri sejak 12 Februari 2026, FKBP Bogor Barat dinilai mulai menunjukkan peran sebagai wadah aspirasi dan penyampai suara publik masyarakat di wilayah Bogor Barat. (Sus).

Editor: Daus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *