Jembatan Gantung, Monumen Janji Politik yang Berkarat di Atas Sungai Cikaniki

banner 120x600

BOGOR, BRN – Di atas Sungai Cikaniki, Kabupaten Bogor, berdiri jembatan gantung besi yang mulai berkarat. Setiap pagi, puluhan warga menyeberang dengan langkah ragu. Besi jembatan itu bergetar, tali penahan kendor, dan karat menjalar di sepanjang rangka. Di bawahnya, arus sungai mengalir deras—seolah membawa pergi satu hal yang tak kunjung datang: janji politik.

Jembatan sepanjang 65 meter ini menghubungkan Kecamatan Nanggung dan Leuwisadeng, dua wilayah yang bergantung pada satu akses vital. Namun, di mata warga, jembatan itu kini tak lagi sekadar penghubung antarwilayah. Ia telah menjelma menjadi monumen janji politik yang berkarat—janji yang diucap lantang saat kampanye, tapi lenyap ketika rakyat menagih.

Menurut laporan JabarOnline.com, jembatan yang melintasi Sungai Cikaniki itu sudah lama disurvei oleh berbagai pihak. Salah satunya oleh Marlin Maesyarah, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra dari Dapil V Bogor.

Marlin pernah menjanjikan pembangunan ulang jembatan ini sebagai bagian dari program aspirasi rakyat. Tapi hingga Oktober 2025, tak ada tanda-tanda proyek dimulai.

“Survei sudah dilakukan, katanya masuk program aspirasi Ibu Marlin Maesyarah,” ungkap Kepala Desa Kalong Liud, Jani Nurjaman

Saat dikonfirmasi pada 22 September 2025, Marlin Maesyarah hanya menjawab singkat, “Waalaikumsalam, harusnya sih tahun ini.”

Jawaban yang terdengar ringan, tapi menampar harapan warga. Sebuah kalimat yang menggantung, seperti jembatan yang ia janjikan.

Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Dinas DPKPP Kabupaten Bogor, Eko Murjianto, menyebut panjang bentangan jembatan menjadi kendala teknis.

“Kalau dari DPKPP Kabupaten Bogor masih menunggu anggaran perubahan, hanya nanti pelaksanaannya akan kita bangun jembatan rawayan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Eko.

la kemudian memaparkan kondisi “serba salah” yang menunjukkan betapa proyek vital ini terlempar-lempar di antara prioritas daerah,

“Karna jembatan rawayan yang rencana akan di bangun melalui DPKPP Kabupaten Bogor sebanyak 5 lokasi, dan. Apabila nanti harus kita bangun di lokasi Leuwisadeng akan mengurangi jumlah bangunan yang kita rencanakan, karna di Leuwisadeng bentangan jembatannya sangat panjang sehingga akan mengurangi jembatan yang mau dibangun,” katanya.

Kini, jembatan gantung besi di atas Sungai Cikaniki berdiri dalam diam—menyimpan karat, menanggung beban, dan menunggu komitmen yang tak kunjung tiba.

Di setiap pijakan besinya, membaca satu pelajaran pahit: dalam politik, janji bisa berkarat lebih cepat dari logam. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *