Aki Gede Jasinga Ratu Bagus Wira Wijaya dan Jejak Sejarah Ngumbah Pusaka Cicanggong

Prosesi penyerahan perlengkapan adat berupa Kain Bodas, Manyan Bodas, Panglay dan Minyak Misik oleh Incu Putu Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga oleh Andri MF Atmawijaya (Ki Endoh) kepada Abah Sukari selaku ahli waris Kabuyutan Cicanggong.
banner 120x600

JASINGA, BOGORREADNEWS.com – Jejak sejarah tradisi Ngumbah Pusaka Kabuyutan Cicanggong di Desa Koleang, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, kembali menjadi perhatian setelah tradisi tersebut digelar pada Kamis (27/8/2026).

Salah satu catatan penting yang menjadi pijakan pelaksanaan tradisi tersebut berkaitan dengan Aki Gede Jasinga Ratu Bagus Wira Wijaya.

Berdasarkan catatan dan tuturan sejarah yang berkembang di lingkungan Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga, tradisi Ngumbah Pusaka di Bale Leutik Kabuyutan Cicanggong disebut terakhir kali disaksikan oleh Aki Gede Jasinga Ratu Bagus Wira Wijaya pada 14 Rabiul Awal (Mulud) 1358 Hijriah.

Tanggal tersebut disebut bertepatan dengan tahun 1939 Masehi, pada zaman Ki Buyut Manan.

Catatan tersebut menjadi bagian penting dalam ingatan sejarah masyarakat Jasinga. Setelah puluhan tahun berlalu, tradisi Ngumbah Pusaka kembali dilaksanakan di tempat yang sama melalui kegiatan Mapag Tali Paranti Ngumbah Pusaka Kabuyutan Cicanggong.

Pelaksanaan kembali tradisi pada 2026 menjadi momentum untuk menggali lebih jauh jejak sejarah yang berkaitan dengan Kabuyutan Cicanggong, termasuk sosok Aki Gede Jasinga Ratu Bagus Wira Wijaya dan Ki Buyut Manan.

Bagi masyarakat adat, Ngumbah Pusaka tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membersihkan benda pusaka. Tradisi tersebut merupakan bagian dari mapag tali paranti, yaitu menjaga kesinambungan adat dan warisan leluhur.

Sejarah mengenai Aki Gede Jasinga Ratu Bagus Wira Wijaya pada 14 Rabiul Awal 1358 Hijriah tersebut menjadi salah satu bagian dari catatan dan tuturan sejarah yang berkembang di lingkungan Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga.

Karena itu, catatan yang menyebut tahun 1939 Masehi tersebut masih perlu dikaji, ditelusuri sumbernya, dan didokumentasikan secara lebih mendalam agar jejak sejarah Ngumbah Pusaka Kabuyutan Cicanggong dapat dipahami secara lebih utuh.

Kehadiran Tim Ahli Cagar Budaya Hendra M. Astari dan Ilham Nurwansah, M.Pd., dalam kegiatan tersebut turut membuka ruang bagi pengkajian sejarah, naskah, dan peninggalan kebudayaan yang berkembang di wilayah Jasinga.

Kini, setelah melewati rentang waktu yang panjang, kembali digelarnya Ngumbah Pusaka menjadi upaya masyarakat Jasinga untuk menghubungkan jejak Aki Gede Jasinga Ratu Bagus Wira Wijaya dan tradisi masa lalu dengan generasi saat ini.

Bukan sekadar mengulang tradisi, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memastikan kisah dan warisan budaya leluhur Jasinga tidak hilang ditelan zaman. (dt/BRN).

Penulis: DausEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *