Berita  

Riungan Gede Jasinga Digelar, Warga Lestarikan Sejarah Kebuyutan Cicanggong dan Budaya Sunda

banner 120x600

BOGOR, BRN – Masyarakat Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, menggelar kegiatan budaya dan sejarah bertajuk Riungan Gede Jasinga pada Selasa–Rabu, 9–10 Juni 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Bogor ke-544 sekaligus upaya memperkuat pelestarian warisan budaya dan sejarah leluhur di wilayah barat Bogor.

Ketua Panitia Riungan Gede Jasinga, Rahmat Hidayat, S.Kom mengatakan kegiatan ini dirancang sebagai ruang silaturahmi masyarakat, tokoh adat, budayawan, dan berbagai elemen lainnya untuk mempererat kebersamaan serta menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Sunda yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurut Rahmat, Riungan Gede Jasinga tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga wadah refleksi terhadap perjalanan sejarah daerah serta upaya merumuskan langkah pembangunan yang tetap berakar pada kearifan lokal.

“Riungan ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan momen berkumpulnya tokoh adat, budayawan, dan warga untuk mengingat akar sejarah, merenungi perjalanan daerah, serta merumuskan langkah kemajuan bersama,” ujar Rahmat kepada Bogor Read News, Selasa (9/6/2026).

Kegiatan tersebut akan menitikberatkan pada penggalian jejak sejarah, nilai-nilai luhur, serta simbol warisan leluhur yang berasal dari Kebuyutan Cicanggong yang berlokasi di kp. Cicanggong Desa Koleang Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor dan Kesepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga.

Dalam rangkaian acara, panitia juga menggelar sarasehan budaya yang menghadirkan tokoh adat, sejarawan, budayawan, akademisi, serta masyarakat umum. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang diskusi untuk memperdalam pemahaman mengenai peninggalan sejarah, naskah kuno, serta tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat Jasinga.

Sarasehan budaya itu menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya Sunda di wilayah barat Kabupaten Bogor yang dikenal memiliki kekayaan sejarah dan tradisi khas. Para peserta akan membahas makna berbagai peninggalan leluhur serta relevansinya dalam kehidupan masyarakat modern.

Rahmat menilai keberadaan Kebuyutan Cicanggong memiliki nilai historis yang penting bagi perjalanan peradaban di Jasinga. Namun, pengetahuan mengenai situs dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mulai berkurang seiring perkembangan zaman.

“Kebuyutan Cicanggong merupakan salah satu saksi sejarah penting peradaban masa lampau di Jasinga. Melalui sarasehan ini, kami ingin membuka kembali pengetahuan yang mulai terlupakan agar generasi muda memahami asal-usul dan jati diri mereka,” katanya.

Melalui Riungan Gede Jasinga, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga mampu menjadikan warisan budaya sebagai sumber inspirasi dalam membangun daerah. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum memperkuat kesadaran kolektif untuk menjaga dan melestarikan peninggalan leluhur sebagai bagian dari identitas Kabupaten Bogor. (dt/ek).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *