JASINGA, BOGORREADNEWS.com — Di tengah perubahan zaman, masyarakat Desa Pangradin, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, masih mengenal tradisi ngala suluh, sebuah kegiatan gotong royong mengambil dan mengumpulkan kayu bakar dari hutan untuk membantu warga yang akan melaksanakan hajatan.
Tradisi ngala suluh telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Desa Pangradin. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan ketika ada warga yang hendak menggelar hajatan, seperti pernikahan atau acara keluarga lainnya.
Dalam tradisi ini, masyarakat secara bersama-sama mencari kayu bakar yang kemudian digunakan untuk kebutuhan memasak selama pelaksanaan hajatan. Warga yang dibantu tidak harus bekerja sendiri karena masyarakat sekitar ikut turun tangan secara sukarela.
Ngala suluh bukan sekadar aktivitas mengambil kayu bakar. Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian dan gotong royong antarwarga.
Melalui kegiatan itu, masyarakat saling membantu meringankan pekerjaan keluarga yang sedang mempersiapkan hajatan. Kebersamaan juga terbangun karena warga berkumpul, bekerja bersama, dan membawa hasil yang diperoleh untuk kepentingan bersama.
Namun, tradisi ngala suluh kini mulai jarang dilakukan. Hanya sebagian kecil masyarakat Desa Pangradin yang masih menjalankan kegiatan tersebut.
Perubahan kehidupan masyarakat dan perkembangan zaman membuat tradisi yang dahulu dilakukan secara lebih luas kini semakin berkurang. Meski demikian, bagi sebagian warga yang masih mempertahankannya, ngala suluh dinilai memiliki nilai kebersamaan yang penting.
Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat pedesaan tidak hanya dibangun melalui hubungan antarindividu, tetapi juga melalui semangat saling membantu ketika salah satu warga membutuhkan bantuan.
Bagi masyarakat Pangradin, ngala suluh juga menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan kayu bakar, tetapi juga menyimpan nilai sosial berupa kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong.
Kini, ketika pelaksanaannya semakin terbatas, keberadaan ngala suluh menjadi bagian dari tradisi lokal yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
Pelestarian tidak selalu harus dilakukan dalam bentuk kegiatan besar. Mengenalkan sejarah dan nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut kepada generasi berikutnya juga menjadi salah satu cara agar budaya lokal tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Ngala suluh pada akhirnya bukan hanya tentang kayu bakar. Di balik kegiatan sederhana itu terdapat semangat gotong royong masyarakat Pangradin dalam membantu sesama sebuah nilai yang tetap relevan meski zaman terus berubah.
















